Makasiy Buat Tuhan, Pdt Anthony Chang, Ayah & Tante Emi
September 16th, 2007 by baikhati2Hari ini mungkin ndak akan jadi hari yang indah. Bangun tidur seperti biasa
aku berdoa yang itu-itu lagi, yang sama seperti hari kemarin. Cuma, sejak
semalam sebelum aku tidur, aku tambah doaku dengan pertanyaan, "Di manakah Tuhan saat aku sedih? Mana
buktinya kalau Tuhan mau menyediakan kebutuhan aku? Mana buktinya Tuhan peduli
sama aku? Mana buktinya Tuhan pelihara aku?" Namun dengan
nada yang biasa aja.
Dari Pkl. 10.30 - 14.30 WIB sambil tidur-tiduran yang akhirnya ketiduran
beneran, isinya cuma sms-an sama Pendy dari GBI Betlehem dan dia aja.
Ndak tau, bawaannya kok ngantuk banget ya? Kebetulan aku puasa 1 kali makan
kenyang dan berniat untuk ndak keluar kos sampe menjelang maghrib.
Pkl. 15.30 WIB ada sms dari Pdt. Ronaldo, "Shallom Lady, gimana ke gereja
hari ini? GBU" Aku balas, "Mau banget Pak, tapi uangku ndak cukup buat ongkos ke
gereja. Dari kemarin belum ada berkat. Maaf ya Pak, bukan ndak mau lho … emang
uangnya ndak cukup.GBU" Pdt. Ronaldo balas, "Ok, ndak apa, saya doakan kamu ya.
GBU"
Setelah aku kirim sms itu, aku keluar kamar. Mau apa ndak ngerti juga. Di
depan ada Tante Emi yang punya warung pempek itu. "Ndak pergi Lad? Udah kerja?"
tanya Tante Emi. "Ndak tante, belum niy makanya BT banget, udah 5 bulan lho aku
nganggur," jawab aku. "Aku kasihan sama kamu. Apa kamu ndak bisa pulang ke rumah
orang tua?" tanyanya lagi. "Ya tante, kalo aku punya orang tua udah pulang dari
kemarin, kan dari dulu juga aku udah bilang aku itu yatim piatu, cuma punya
nenek yang sakit-sakitan. Mau pulang ke sana juga ndak mungkin, rumahnya kan
udah ndak layak huni," jawab aku.
AKhirnya kita ngobrol sampe aku nangis-nangis. Tante Emi tanya, "Kamu ndak ke
gereja? Aku sih udah pulang 1 jam lalu." Aku jawab, "Mau banget Tante, tapi
uangku ndak cukup buat ongkos." Ya ampun, sedih banget deh waktu aku ngomong
begitu. Gila banget ya, sampe ongkos buat ke gereja aja ndak ada … :((
"Ya udah, kamu mandi sana. Nanti aku kasih uang untuk ongkos ke gereja dan
kamu makan hari ini," kata Tante Emi. "Makasih ya Tante, aku mandi dulu," jawab
aku.
Aku balik ke kamar dan aku sms Pdt. Ronaldo, "Pak, aku ke gereja jam 6 ya.
Aku dikasih uang sama tetangga kos aku. Makasih Pak. GBU."
Selesai mandi, aku ketemu Tante Emi di depan. Dikasih ongkos 25 rb. "Ini buat
ongkos kamu ke gereja dan makan hari ini. Ini buat kamu, ndak usah pinjam ya.
Jangan lupa makan ya Lady." Aku jawab, "Terima kasih ya Tante, makasih."
Menuju ke luar gerbang kosan aku, aku bilang dalam hati, "Tuhan makasiy ya.
Paling ndak aku bisa ke gereja."
Waktu jalan menuju ke stasiun, ada sms lagi. Nomor tak dikenal itu,
mengirimkan sms, "Non, maaf Ayah baru balas sms kamu. Ayah bingung harus gimana.
Kamu tau kan, bicara sama Tante kamu susah banget. Awalnya Ayah pikir kamu
bercanda minta bayarin kos. Tapi, seminggu ini, tiap Ayah berdoa, Tuhan selalu
suruh Ayah untuk kirim uang untuk kamu bayar kos. Tadi Ayah udah kirim. Kamu cek
ya Non. Ini no baru Ayah. Jesus Bless U, Non."
Hah? Dari Ayah. Ya ampun … aku kaget banget. Soalnya dari awal bulan aku
sms Ayah untuk minta uang kos tapi ndak dibales. Aku tau, pasti Ayah juga
bingung kalau mau menyisihkan uang untuk aku.
Tuhan terima kasiy ya. Aku ndak tau juga musti bilang apa. Baru semalam aku
sibuk berdoa "Di manakah Tuhan
saat aku sedih? Mana buktinya kalau Tuhan mau menyediakan kebutuhan aku? Mana
buktinya Tuhan peduli sama aku? Mana buktinya Tuhan pelihara aku?"
Hari ini Tuhan mengirimkan 2 berkat melalui Ayah dan Tante
Emi. Meski cukup untuk bayar kos dan ongkos ke gereja, tapi udah ada yang
selesai.
Tuhan, aku bener-bener kepengin pulang ke tempat di mana aku bisa
terlindungi. Tapi di mana ya? Aku iri sama teman-teman lain yang bisa pulang,
tidur tanpa dia mikir bayar sewa untuk tempat tidur dan bisa makan kenyang tanpa
dia mikir juga uang untuk beli makanan itu.
Sesampainya di gereja, seperti biasa aku berdoa, "Tuhan terima kasih aku sudah tiba di rumahMu berkumpul bersama
saudara seiman. Terima kasih aku telah Engkau layakkan untuk datang menghadap
hadiratMu dan diijinkan beribadah kepadaMu."
Tepat Pkl. 18.00 WIB,
ibadah dimulai. Di awal aja aku udah nangis. Pas masuk firman Tuhan, lebih
nangis lagi. Aduh, kenapa ya, tiap aku "bermasalah", khotbahnya selalu nyindir
aku?
Kelar gereja, seperti biasa aku nemuin Pdt. Anthony Chang. Belum aku sapa,
Beliau udah nyapa duluan, "Wah, Si Baikhati kok sedih? Ada apa?" Aku jawab,
"Shallom Pak, ya aku lagi sedih, masalahnya masih yang kemarin Pak. Tapi
sekarang aku lagi merasa Tuhan ndak peduli sama aku, Tuhan ndak pelihara aku,
Tuhan lagi ndak mau juga menyediakan kebutuhan aku dan Tuhan ndak ada saat aku
sedih. Aku juga jadi nangis karena khotbah Bapak tadi."
"Sabar ya Nak, Bapamu di Surga mendengarkan doamu. Ia selalu ada untuk orang
yang hancur hatinya. God is good, ketika semua orang tidak mencintai dan tidak
peduli sama kamu Tuhan tetap peduli. Saat kamu berdoa Ia mendengarkan doamu,
saat kamu menangis Ia ada di sampingmu, saat kamu minta ampun akan dosamu Ia
segera mengampunimu. Apa yang kita cinta dan cita-citakan tidak selalu hadir
dengan mudah. Tapi percaya dan yakinlah Nak, Tuhan itu baik, Tuhan itu peduli
sama kamu. Mari kita berdoa kiranya Tuhan segera membukakan jalan untuk
masalahmu dan kamu bisa menyelesaikannya satu per satu. Ingat selalu ya Lady,
Tuhan selalu ingin bersamamu, tinggal di dalam hatimu dan beracara dalam
hidupmu. Dia sangat mencintaimu dan selalu hadir dalam kehidupanmu melalui Roh
Kudus-Nya! Mungkin matamu tak dapat melihatNya atau kamu tak dapat merasakan
kehadiranNya, itu tak masalah, tapi Dia tetap ada! Dia ada di sana
memperhatikan, mengawasi dan berjaga-jaga atas hidupmu," ujar Pak Pdt. Anthony
Chang.
Dan aku mengamininya. "Pak Pdt. Anthony Chang makasiy ya buat
pencerahannya. Bapak lekas sembuh juga ya Pak. GBU."
Ayah terima kasiy ya buat uang kosnya. Ndak nyangka ya Yah, setelah lama
banget kita ndak ketemu, ternyata Ayah juga udah peka mendengarkan suara Tuhan.
Jadi, sekarang kalau aku perlu sesuatu dan Ayah ragu itu benar apa ndak, kan
Ayah bisa tanya sama Tuhan itu benar apa ndak. Meski, sebenarnya ndak ada
gunanya juga aku bohong sama Ayah.
Bapaku di Surga, terima kasiy untuk apa yang telah Engkau lalukan baguku.
Meski kadang aku merasa Engkau jauh, meski kadang aku merasa Engkau tak
mendengar doaku, meski kadang aku bersungut-sungut karena seolah-olah Engkau
tutup mata terhadap masalahku, meski aku merasa Engkau tak memeliharaku, meski
aku merasa Engkau tak memenuhi kebutuhanku; tapi Engkau tetap bekerja dalam tiap
masalahku. Rasanya seribu lidah tak cukup menyanyikan pujian kepada kasihMu yang
hebat atasku. Amin.