Lewati Via Dolorosa, Joe Richard Tak Kuasa Tahan Tangis
Monday, December 31st, 2007 Di
penghujung tahun ini, Joe Richard (presenter, artis sinetron, penyanyi
dan model) mendapat kesempatan berkunjung ke Holyland. Bersama rombongan dari
Mahaloka Tour & Travel; anak tengah dari pasangan Eduard Kalalo
dan Hedy Bacas, melakukan perjalanan yang sarat dengan
"makanan" rohani dan pujian bagi Tuhan yang sangat bermanfaat bagi
pertumbuhan imannya.
Pada (20/12) perjalanannya dimulai. Menjelang sore,
rombongan bertolak ke Cairo via Abudhabi dari Bandara Soekarno Hatta. "Aku
senang banget bisa ikut wisata rohani ini karena aku yakin ini adalah bagian
dari rencana Tuhan buat aku. Kesempatan Natalan di tempat asli Tuhan Yesus
lahir, merupakan kenangan yang tak terlupakan dan inilah bagian dari jawaban
doaku selama ini," ujar Presenter Acara Kiss Plus Indosiar.
Setibanya di Cairo, lajang berbintang Libra ini mengunjungi Gereja St. Simon The
Tanner di Bukit Mutakam (bukit bebatuan yang megah) lalu ke Gereja Gantung,
ke Gereja Abu Surga (tempat persembunyian Maria, Yusuf dan bayi Yesus dari
kejaran Herodes setelah meninggalkan Betlehem), ke Ben Ezra Synagog (tempat
awal bayi Musa dihanyutkan di Sungai Nil) dan bermalam di Cairo. Memasuki hari
ke-3, pemilik album solo rohani berjudul Hidupku MilikMu beserta
rombongan, menuju ke St.
Chatrine (Gunung Sinai). "Kami jalan-jalan ke
Gyza Pyramid dan Sphinx yang indah, megah dan menarik," ungkap pria
kelahiran 11 Oktober ini.
Kemudian, dari Cairo ke arah Timur menyeberangi Terusan Suez menuju St.
Chatrine. Joe singgah di Mara (tempat Nabi Musa merubah air pahit jadi air
tawar), mampir ke
Elim di mana ada 70 pohon kurma, ke Rafidim (tempat Nabi Musa
mengalahkan Suku Amalek) dan bermalam di sebuah hotel di kaki Gunung Sinai.
Hari ke-4, perjalanan ke Gunung Sinai atau disebut juga Gunung Musa (tempat
Nabi Musa menerima 10 Perintah Allah). "Aku berhasil naik ke puncak
Gunung Sinai dan mendapat sertifikat atas keberhasilan ini. Bukan cuma itu, di
sini aku juga shooting
video clip untuk single lagu rohani aku yang berjudul Arti
KehadiranMu," cerita cover boy Majalah Aneka ini, panjang lebar.
"Saat berada di Puncak Gunung Sinai, aku bisa merasakan dan merenungkan
kebesaran kuasa Tuhan, selain aku menikmati keindahan alam ciptaanNya,"
imbuhnya.
Setelah itu, rombongan singgah di St. Chatrine Monastery lalu melanjutkan
perjalanan
ke Israel menuju Tara Border.
Dari Israel menuju ke utara melewati Kota Eilat (kota di tepi Laut Merah) lalu
ke Laut Mati yang letaknya 400 meter di bawah permukaan lain dan bermalam di
bekas Kota Sodom dan Gomorah.
"Di sini aku sempat mengapung di Laut Mati yang berkadar garam tinggi
(35%). Kalau orang lain bilang bahwa air di laut mati ini diyakini dapat
menyembuhkan berbagai macam penyakit; aku langsung membuktikannya. Jadi,
seminggu sebelum
berangkat; waktu aku shooting Acara Koper dan Ransel, aku
kepleset dan masuk ke kandang buaya. Betis kiri aku luka lumayan parah. Dan
setelah mengapung di air Laut Mati, lukanya kering dan sekarang kakiku sudah
pulih kembali," cerita penyuka warna coklat ini.
"Bukan cuma itu, di Laut Mati aku juga shooting video clip lagu Musik
Dalam Hatiku, salah satu lagu favorit dari album solo aku yang pertama,"
tambahnya.
Memasuki hari ke-5, rombongan menuju Qumran (tempat ditemukannya gulungan Kitab
Suci di gua-gua oleh Suku Bedouin; di antaranya Kitab Amos, Yesaya dan
Hubakuk). Lalu, singgah di Yeriko (kota tertua di dunia, di tanah subur Yudea
dan kota pertama yang dimenangkan Yosua di Tanah Perjanjian dengan kuasa
pujian), lalu melanjutkan perjalanan ke MT of Temptation (Gunung Pencobaan, di
mana Yesus dicobai iblis), kemudian memasuki Yerusalem (Kota Mulia) menuju
tembok barat, diteruskan ke Terowongan Bait Allah (tempat yang menggemparkan di
dunia karena digali secara diam-diam di bawah Mesjid Al Aqsa dan Dome of The
Rock oleh Bangsa Yahudi), ke St. Anna (tempat kelahiran Bunda Maria), Ke
Kolam Bet Esda (tempat Yesus menyembuhkan oleh lumpuh) kemudian dilanjutkan
dengan Perayaan Malam
Natal (Doa, Drama, Pujian dan Syukur serta makan malam
dengan para Messianic Jews di Yad Hashmona (The Living Stones).
"Ibadah malam Natal yang sangat hikmad, di sebuah tenda besar, di desa
dan bersama orang-orang Yahudi. Seru banget, di sana kita juga disuguhi operet
dari anak-anak desa dengan Bahasa Ibrani. Selain itu, aku juga nyanyi buat
Tuhan
sekaligus menghibur saudara seiman," ucapnya.
Tepat 25 Desember , rombongan ke Padang Gembala dan Chruch of Nativity
di Betlehem (tempat Yesus lahir). Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Bukit
Zaitun (tempat di mana Tuhan Yesus naik ke Surga); "Kami semua dapat berfoto
dengan latar belakang Kota Tua Yerusalem," ujar Joe.
Lalu, perjalanan dilanjut ke Gereja Pater Noster atau disebut juga
Gereja Bapa Kami; di halaman gereja terdapat tulisan doa Bapa Kami dari keramik
dalam 200 bahasa (termasuk Bahasa Indonesia dan Bahasa Batak). Lalu, ke Taman
Gestemane (tempat
Yesus menghabiskan waktu terakhirNya sebelum ditangkap
tentara Romawi. "Di sini ada pohon zaitun yang usianya lebih dari 2.000
tahun dan pohon itu menjadi saksi Yesus berdoa," kenangnya.
Setelah itu, melewati Lembah Kidron ke Bukit Sion, ke ruang perjamuan terakhir
dan makan Raja Daud. Kegiatan dilanjutkan dengan ibadah Perjamuan Kudus di Garden
Tomb (taman milik Yusuf Arimatea yang dipercaya sebagai kuburan Yesus).
Hari ke-7 dapat dikatakan hari yang paling berkesan bagi Joe, karena ia semua
melakukan Jalan Salib menjalani Via Dolorosa dari Benteng Antonia (Pengadilan
Pontius Pilatus) sampai ke Bukit Golgota (Gereja Makam Kudus). “Aku bersama
rombongan melaksanakan prosesi napak tilas jalan salib yang terdiri dari 14
stasi (perhentian). Pada tiap stasi kita semua berdoa dan merenungkan sengsara
dan pengorbanan Tuhan Yesus, mulai dari vonis dijatuhkan, memikul kayu salib
sampai dengan pemakaman-Nya," cerita pemeran Sinetron Cinta 100 Hari.
"Melewati Via Dolorosa
aku sempat nangis. Rasa simpatiku tergugah, seolah aku berada di sana
saat
Yesus lahir sampai Ia naik ke Surga. Saat aku berziarah ke makam Yesus aku
merasa suka cita dan damai yang tak terkira," tambahnya.
Setelah jalan salib menuju ke Kana. Di Kana, rombongan mengadakan kebaktian
yang dipimpin oleh Pdt. Carlo Leander, MA, disertai dengan mendoakan/tumpang
tangan kepada beberapa pasutri (pasangan suami–istri) dari peserta rombongan
supaya
diberkati Tuhan dan tetap harmonis dalam membina rumah tangga; lalu
perjalanan dilanjutkan ke Nazareth mengunjungi rumah Maria, Yusuf dan Yeus;
yang disebut dengan Chrurch of The Annuciation, Chiesa Dell Annunciazion,
Eglise de L Annonciation. Lalu ke Gereja Gantung (tanpa pondasi, yang dibangun
di atas mata air di mana Maria mendapat pesan dari Malaikat Gabriel), kemudian
naik taxi ke Gunung Tabor yang bentuknya seperti kubah; berdiri megah di Daerah
Galilea. Karena kesuburannya, dari kejauhan gunung Tabor terlihat hijau
sepanjang tahun. Di puncak gunung Tabor dibangun gereja yang di dalamnya
terdapat mosaic yang
menggambarkan kemuliaan Tuhan Yesus. Ada dua kapel;
kapel yang dipersembahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Elia.
Keesokan harinya, model iklan detergent ini menikmati keindahan Gunung Hermon
yang ditutupi salju dari dataran tinggi Golan dan Sungai Jordan dengan cable
chair.
Saat makan siang, seluruh rombongan menikmati hidangan khas, yaitu Ikan
Petrus. Ikan Petrus? Konon ikan ini merupakan ikan keturunan hasil
tangkapan nelayan Rasul Petrus, murid Tuhan Yesus. Ikan sebesar Ikan gurame ini
sangat gurih dan lezat, dihidangkan bersama nasi panas, sambal pedas khas
Israel. "Di sini aku dapat
sertifikat The Jesus Boat, karena aku
bukan hanya makan Ikan Petrus tapi juga naik Kapal Petrus," cerita Joe
penuh semangat Setelah
makan siang, rombongan jalan-jalan naik perahu nelayan menyebarangi Danau
Galilea menuju Kapernaum
(tempat Yesus mengajar dan banyak melakukan
mujizatNya), lalu ke Tabgha (tabgha yang berarti tujuh sumber air ini adalah
tempat Yesus melipatgandakan 5 roti dan 2 ikan), kemudian ke Church of The
Primacy (tempat di mana Yesus minta Petrus untuk menggembalakan dombaNya), ke
MT of Beatitudes (Bukit Sabda Bahagia, di mana Yesus berkhotbah di depan 5.000
orang tanpa pengeras suara dan di sini ada gereja segi delapan yang mewakili 8
sabda bahagia), dan terakhir ke Yadermit (tempat
pembaptisan di Sungai Jordan).
"Tak terasa perjalanan hampir berakhir. Memasuki hari ke-9, pagi ini aku
dan rombongan meninggalkan Israel menuju Yordania melalui Sheik Hussein Bridge
trus naik bus ke Gunung Nebo melihat Tanah Kanaan lalu ke selatan Kota Amman
dan bermalam di Petra," ceritanya lagi.
"Aku sempat mampir ke The Lost City atau dikenal juga dengan sebutan Kota
Batu, kota yang sempat hilang karena gempa; tempat pengambilan gambar untuk
Film Sinbad, Indiana Jones, dll," tambahnya.
Sebelum pulang ke Jakarta, tour hari terakhir ke Gunung Petra The Red Rose
menelusuri jalan sepanjang 2 km yang sempit ini dengan kuda (ada juga yang
jalan kaki) untuk, melihat keindahan gua yang dipahat di dinding batu yang
warna-warni indah alami. Singgah di Wadi Musa, melihat makan Harun (kakak Musa)
lalu menuju ke Queen Alia Airport untuk kembali ke Jakarta.
Lalu, dari sekian banyak tempat yang dikunjungi, tempat mana yang paling
berkesan
untuk Joe? "Di Bukit Zaitun, tempat di mana Yesus terangkat ke
Surga, karena aku mau ikut ke sana. Selain itu; ketika aku mengunjungi, melihat
dan menginjakkan kaki di tempat kelahiran Yesus, aku flash back mengingat semua
keajaiban, kebaikan dan karya Tuhan dalam hidup aku," jawabnya.
Sejatinya dalam perjalanan rohani kita dapat menuju kedewasaan iman agar kita
belajar untuk mengantungkan kebahagiaan kita hanya pada Dia, menyakini betul
bahwa Tuhan satu-satunya pribadi yang dapat memuaskan dan membahagiakan jiwa
kita, sehingga hidup kita lebih bahagia karena dilingkupi oleh hadiratNya!
Semoga rasa suka cita yang
penuh dengan kenangan indah ini akan menjadi pertumbuhan iman yang luar biasa
bagi seorang Joe Richard.
Selain itu juga, kiranya pengalaman rohani yang luar
biasa ini akan berbuah baik, menguatkan dan meneguhkan hati Joe jauh melampaui
apa yang dapat ia bayangkan sebelumnya.