13 September 2007, Pkl. 08:19:46 WIB hp aku bunyi, ada sms. SMS dari seorang teman. Isinya, "Kebanggan saya sebagai orang yang percaya Yesus adalah ketika saya mengetahui saya sudah dibebaskan dari kuasa dosa. Dulu saya seorang pecundang, sampah masyarakat, pendosa dan anggota kerajaan neraka. Tapi hari ini saya tahu, ketika saya percaya pada Yesus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat, saya adalah seorang pemenang, orang yang sudah dimerdekakan dari ikatan dosa, dikuduskan dan penghuni kerjaaan surga (Yesaya 53). Apakah kebanggan Anda sebagai orang percaya?"
Membaca sms itu, aku meneteskan air mata. Lalu, sms itu aku balas, "Saya bangga menjadi seorang pemenang, menjadi orang yang sudah dimerdekakan dari ikatan dosa, dikuduskan dan jadi penghuni kerajaan surga. Tapi, melihat hidup saya saat ini, saya merasa bahwa untuk melewati masa pertobatan yang merupakan proses terus-menerus untuk membersihkan seluruh segi kehidupan saya dari kecemaran dosa sangat terasa berat dan pahit. Melalui masa pentahiranNya itu berat dan pahit banget."
Dulu, saat sedih seperti ini, saat hidup terasa berat, saat aku ndak bisa menentukan jalan, saat semua terasa gelap, saat pikiran buntu; rasanya ringan dengan mengintip kartu dan dibacain sama teman. Tapi, sekarang udah nggak boleh lagi aku lalukan. Hal semacam itu udah 2 tahun aku tinggalkan.
Dulu juga dengan mudahnya aku suka memusuhi Tuhan ketika aku salah mengerti apa kehendakNya. Bahkan dengan kesombonganku, aku selalu menantangMu. Ya, mungkin dulu aku itu seperti orang bodoh, bebal dan dungu yang dengan mudahnya mengangkat dagu atau mengacungkan tinju dan berteriak, "Tuhan itu ndak ada."
Tapi, setelah aku bersamaNya, aku tak lupa mengucap syukur atas kesabaran dan ketekunanNya sama aku. Meski dulu aku sering memusuhiNya, tapi Dia tetap sabar. Sampai hari ini pun, Dia masih membiarkan aku hidup di hadapanNya, pasti itu karena kesabaranNya terhadap kelakuanku. Aku tau, untuk meninggalkan masa laluku, aku tetap ndak boleh melupakan bagaimana Ia membawaku dari masa laluku.
Bulan ini parah banget. Ya sih, udah nganggur 5 bulan. Tapi bulan ini paling parah. Tagihan-tagihan semua "menggonggong" untuk dibayar. Dan hebatnya sampai hari ini, aku belum bisa bayar kos juga.
Selasa lalu, salah satu penagih menelepon, "Kapan mau lunasin?" Aku jawab, "Aku pasti lunasin, tapi aku minta waktu karena aku sedang usahakan. Begitu ada, aku bayar. Ada sih beberap pekerjaan yang akan datang, tapi masih harus difollow up. Bantu doa juga ya, biar Tuhan bukain jalan." Si penagih bilang, "Heh cewek bego! Yang gw perlu itu kepastian lu bayar, jangan bawa-bawa nama Tuhan ya, asal lu tahu, Tuhan itu lagi ngutuk lu."
Usai telp ditutup gw yang saat itu lagi makan, langsung nangis. Saat itu gw langsung telp ke Pendeta Ronaldo. Beliau bilang, "Sabar ya Lady, percaya deh Tuhan pasti buka jalan buat kamu." Aku bilang, "Aku pasti sabar Pak, aku juga yakin segala sesuatu itu indah pada waktuNya, tapi orang yang nagih aku mana mau tau itu?" Pendeta Ronaldo lalu bilang, "Sabar ya Lady. Sabar. Saya doakan kamu ya."
Mungkin, Pendeta Ronaldo juga udah speechless, nggak tau musti bilang apa.
Dalam masa yang sulit dan berat ini, aku merasa kalau semua jalan tertutup rapat. Soal kerja, gw udah kirim lamaran tiap hari. Tapi belum ada lagi panggilan. Saat ada panggilan yang di Klp Gading itu, usai interview, HRDnya bilang, "Saya suka sama kamu, pintar dan hebat banget pengalamannya, hari Senin saya kabarin, semoga kamu bisa bergabung di sini."
Waktu pulang, Pendeta Ronaldo telp, "Gimana hasil interviewnya?" Aku bilang, "Kata orang HRDnya, Saya suka sama kamu, pintar dan hebat banget pengalamannya, hari Senin saya kabarin, semoga kamu bisa bergabung di sini. Gitu Pak, semoga hari Senin kabar baik ya Pak. Mohon bantu doa ya Pak. Makasih." Pak Ronaldo jawab, "Yakin deh, Tuhan pasti bantu kamu, pasti buka jalan." Aku jawab, "Iya Pak. Makasih. GBU."
Hari Seninnya, aku dapat kabar, "Setelah dipertimbangkan, maaf kami memilih yang lain." Ya udah, belum waktuNya kerja kali.
Dalam sejarah hidup aku, baru kali ini aku lama banget nganggur, 5 bulan! Gila banget. Padahal biasanya paling lama 1 bulan. Itu pun, pekerjaan freelance mengalir. Tapi, kali ini kenapa jadi berenti ya?
Meski begitu, aku tetap berdoa tak henti-henti walau kadang capek juga. "Selamat pagi Tuhan, Engkaulah sumber berkatku dan pokok pujianku hari ini. Engkau maha tau terhadap setiap langkah yang akan kuambil hari ini, setiap ide yang muncul di benakku dan setiap orang yang akan kutemui. Aku memerlukan kuasaMu hari ini, aku memerlukan kekuatanMu untuk menghadapi setiap masalahku. Anugerahkanlah padaku hati yang kuat dan mantap, roh yang tak pernah letih dan menyerah. Penuhi aku dengan diriMu sendiri supaya aku bisa melepaskan semua ketakutanku dan berdiri teguh sebagai hambaMu yang beruntung dan berhasil di setiap langkahku. Bayangan masa depan yang buruk di pikiranku sering membuat aku kuatir. Kalau aku ndak bisa mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk itu muncul di benakku, aku tetpa bisa menyerahkan kekuatiranku di hadapanMu dan meminta campur tangan IlahiMu untuk menunjukkan kepadaku apa yang benar ketika aku hanya dapat melihat yang salah dalam segala hal yang aku kuatirkan. Aku bertekad melihat yang baik, jadi tolonglah aku agar tidak dibutakan oleh ketakutan, keraguan, keinginan dan gagasanku sendiri. Aku minta Engkau menyingkapkan kebenaranMu kepadaku dalam segala keadaan. Berkati aku dengan kemampuan untuk mengerti gambar keseluruhan yang lebih besar dan untuk membedakan antara yang berharga dan yang ndak penting. Ketika sesuatu tampak ndak beres, Allah Roh Kusus bantulah aku untuk ndak berburuk sangka. Mampukan aku untuk mengenali jawaban doaku. Aku percaya Engkau akan menolongku untuk melihat mujizatMu terjadi dalam setiap keadaan walau seburuk apa pun juga. Amin"
Dan, sampai dengan hari ini … saat aku dimaki sama pembantu kos aku karena aku belum bayar gajinya bulan lalu (padahal, dari awal aku udah nggak kerja; aku mau stop dia kerja. Tapi karena yang kos di tempat aku sekarang ini banyakan cowok, dia cuma nyuciin buat aku aja, aku juga ndak tega untuk memberhentikannya. Dan, berdasarkan hasil konseling aku dengan Pendeta Ronaldo, aku sudah memberhentikannya sejak awal bulan ini, cuma aku belum bisa bayar gajinya bulan lalu). Hebat ya, baru kali ini aku dimaki sama pembantu. Dan itu menyedihkan banget!
Kemarin aku minta tolong temanku pinjam uang. Dia jawab, "Ntar jam 5 ya ditransfer." Sampe jam 6 belum ada kabar. Waktu aku sms, dia jawab, "Sorry besok aja ya." Lalu, pagi tadi aku sms dan dia jawab, "Wah, sorry gw ga jadi bantu lo deh …"
Aku inget, 2 minggu lalu saat aku dapat door prize, voucher belanja carrefour dari XL; aku ndak lupa untuk berbagi sama dia. Menyedihkan. Tadi, aku berdoa, "Tuhan, bukan maksud aku mengungkat apa yang udah aku bagi sama dia. Selama ini, aku ndak lupa menyisihkan sebagian berkat aku untuk dia, karena dia temanku. Tapi kenapa saat aku perlu, dia selalu dan selalu begitu? Tuhan tolong ingetin aku ya, kalau aku ada berkat supaya aku ndak inget dia dan ndak bagi dia. Biar aku selalu mikirin diri aku sendiri, aku juga masih perlu."
Beberapa jam setelah berdoa, Tuhan menjawab doa itu (melalui seorang teman), "Kamu ndak usah bantu dia lagi kalau saat kamu susah dan kamu minta bantuan dia, dia ndak mau bantu dan kamu membatin tentang bantuanmu ke dia karena itu menyakitkan dan kamu bisa jadi benci orang itu."
Ya juga. Tapi, sekarang aku mau tanya ya Tuhan, ke mana sih Tuhan saat aku sedih? Mana buktinya kalau Tuhan mau menyediakan kebutuhan aku? Mana buktinya Tuhan peduli sama aku? Mana buktinya Tuhan pelihara aku?
Jika saat ini aku bilang, yang aku butuh uang dan uang itu akan buat aku selamat, Tuhan selalu jawab, "Yang kamu perlu Aku, bukan uang. Saat aku bukan pintu ndak ada 1 orang pun yang bisa tutup, saat aku tutup ndak ada yang bisa buka."
Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku udah minta, aku udah usaha, aku udah mencari, tapi semuanya GAGAL. Apa dosa aku begitu berat sehingga Tuhan membuat aku sesengsara ini? Apa benar Tuhan lagi ngutuk aku seperti kata penagih itu? Apa Tuhan mau aku melalui ancaman-ancaman yang mereka sampaikan? Kalau aku boleh memilih, aku pilih mati aja Tuhan. Aku ndak sanggup nanggung semuanya. Ndak ada juga kan yang aku tunggu? Ndak ada juga yang nunggu aku …
Sebenarnya aku ndak mau menantang Tuhan. Aku ndak mau buat Tuhan marah karena keluahan dan rengekan aku. Tapi, aku cuma mau tanya, di manakah Tuhan saat aku sedih? Mana buktinya kalau Tuhan mau menyediakan kebutuhan aku? Mana buktinya Tuhan peduli sama aku? Mana buktinya Tuhan pelihara aku?
Tapi kenapa sekarang Tuhan jadi ndak peduli sama aku? Kenapa Tuhan ndak menyediakan kebutuhan aku? Kenapa Tuhan ndak peduli sama aku? Kenapa Tuhan ndak pelihara aku?
Tuhan memang memberikan aku sedikit kebahagiaan dengan menghadirkan dia dalam hidup aku. Mungkin aku merasa ndak sendiri. Tak terbayangkan juga andai Tuhan tak pernah menghadirkan dia dalam hidup aku. Mungkin akan lebih menyedihkan lagi, mungkin aku lebih terpuruk lagi. Hari-hari belakangan, cuma dia yang perlu aku, dia yang butuh aku, ndak penting statusnya apa, tapi aku lebih merasa penting karena dia memerlukan aku. Tapi, kebagiaan yang Engkau kirimkan melalui dia, ndak bisa meng-cover kekuatiran, ketakutan, kegelisahan, kegalauan aku menghadapi hidup sekarang.
Aku mengundang mujizatMu, datanglah karena aku mengundang mujizatMu. Aku akan tetap berdoa, karena berdoa bukan kewajiban tapi hak asasi aku sebagai manusia untuk menikmati fasilitas kerajaan surga di bumi. Aku mengundang mujizatMu, aku ingin Engkau bekerja dalam tiap masalahku.