Kebahagiaan
Tuesday, August 21st, 2007Kita nggak pernah bisa menciptakan kebahagiaan, karena kebahagiaan emang nggak pernah bisa kita ciptakan tapi kebahagiaan itu disiapkan Tuhan buat kita, tinggal kita menikmati aja!
Kita nggak pernah bisa menciptakan kebahagiaan, karena kebahagiaan emang nggak pernah bisa kita ciptakan tapi kebahagiaan itu disiapkan Tuhan buat kita, tinggal kita menikmati aja!
May You be blessed with all things good. May your joys, like the stars at night, be too numerous to count. May your victories be more abundant than all the grains of sand
on all the beaches, on all the oceans, in all the world.
May lack and struggle only serve to make you stronger and may beauty order and abundance be your constant companions.
May every pathway you choose lead to that which is pure and good and lovely.
May every doubt and fear be replaced by a deep abiding trust as You behold evidence of a Higher Power all around You.
And when there is only darkness and the storms of life are closing in, may the light at the core of your being illuminate the world.
May You always be aware you are loved beyond measure and may you be willing to love unconditionally in return.
May You always feel protected and cradled in the arms of God, like the cherished child You are.
And when You are tempted to judge may You be reminded that we are all ONE
and that every thought You think reverberates across the universe, touching everyone and everything.
And when You are tempted to hold back, may You remember that love flows best when it flows freely and it is in giving that we receive the greatest gift.
May You always have music and laughter and may a rainbow follow every storm
May gladness wash away every disappointment, may joy dissolve every sorrow
and my love ease every pain.
May every wound bring wisdom and every trial bring triumph and with each passing day, may you live more abundantly than the day before.
May You be blessed and may others be blessed by You. This is my heartfelt wish for You.
May You be blessed.
Kadang kala mujizat cinta datang dengan cara yang misterius dari lubuk hati yang tersembunyi.
Tak seorang pun tahu, siapa yang dipilih Tuhan untuk mengirim mujizat cinta berikutnya.
Entah seekor merpati, gagak hitam atau barangkali seekor rajawali yang mengitari surga.
Kemarin malam, aku menyempatkan diri
untuk berkunjung ke rumah Ayah. Wah, sepertinya penjagaan
berlapis-lapis banget ya. Dan, tetap nggak bisa ketemu. Aku cuma mau
ngomong sebentar, beri aku waktu untuk bicara.
Kalau aku nggak bisa bicara di telp
atau di sms atau minta waktu ketemu, lalu aku harus bicara di mana?
Ayah. Ya, aku dari kecil memanggilnya
Ayah. Ayah adalah kakak angkatnya mami aku. Jadi, mami aku itu anak
tunggal juga seperti aku. Saat mami aku masih kecil, nenek aku
mengadopsi anak cowok yang jadilah anak cowok itu abang angkatnya
mami aku. Karena sejak umur 3 tahun mami aku meninggal dunia, jadi
aku cuma punya Ayah dan Papi.
Sama Ayah lebih dekat karena memang
serumah, tapi sama Papi jauh karena cuma boleh ketemu seminggu sekali
sama nenek aku.
Saat mau masuk SMP, aku kehilangan Ayah
dan Papi. Ayah yang menikah dengan Tante Frida dan Papi yang nggak
lagi dapat ijin dari nenek aku untuk ketemu sama aku. Duh sedih
banget ya jadi aku ini.
Lalu, saat Papi juga pergi ke Surga,
aku bener-bener cuma punya Ayah, Papa (kakek aku) dan Mama (nenek
aku).
Emang dari sananya, Mama sekalu “ajaib”
seneng banget merusak hubungan orang lain, padahal udah tau juga kalo
membina hubungan baik dengan orang lain itu susah. Ampun … ampun,
untung aja aku nggak ikutan punya tabiat seperti itu. Amit-amit deh
…
Hubungan Mama dan Tante Frida, juga
makin buruk. Dan semua itu aku kena imbasnya. Saat aku perlu Ayah,
janjian udah seperti orang pacaran dan backstreet aja!
Sebenarnya, Ayah udah “pasang badan”
supaya Tante Frida bisa menerima kehadiran aku. Tapi, sakit hati dan
dendam Tante Frida sama Mama melebihi rasa kasihan sama aku, sehingga
sulit banget.
2 tahun lalu, saat Ayah dirawat di RS
Medistra, aku jenguk dan diusir. 2 bulan lalu, saat Ayah mencariku
dan kita ketemu, ampun sedih banget …. Tapi keadaan belum berubah,
jangankan ketemu, bicara pun sulit.
Andai adik-adikku (walau kalian nggak
pernah anggap aku kakak, aku tetap kakak kalian lah, meski bukan
kakak kandung) baca tulisan ini, tolong ya … sampein curhatan aku
ini sama Ayah aku dan sama Ibu kalian. Tolong ya Armando, Armanda,
Louise …
Aku cuma perlu waktu untuk bicara,
Ayah! Aku mau ngomong soal Mama. Aku udah nggak bisa lagi berbuat
apa-apa. Aku udah kehilangan tenaga, udah kecapekan buat menghadapi
Mama dan sekarang juga udah separuh nafas untuk mengcover semuanya.
Nggak bisa ya, saat aku buntu dan tanpa pengharapan spt ini Ayah bisa
bantuin aku, walau cuma dengerin aku curhat.
Di depan Mama, aku udah berusaha
semampu aku buat belain Ayah.Walau aku tahu itu juga sulit. Bukankah
Ayah juga ngerti hal ini? Harusnya ya …
Kembali dengan alasan, “Non, Tante
Frida nggak bisa terima kamu, sakit hatinya masih sulit dihapus.
Tolong kamu ngerti dia.”
Aku tau, aku ngerti, aku paham …
Tapi sampai kapan Tante Frida juga ikut
membenci aku? Gimana caranya aku bisa membuat Tante Frida “jatuh
cinta” sama aku kalau kesempatan itu nggak pernah ada?
Jangan cuma aku dong yang dipaksa untuk
selalu mengerti, selalu paham dan tau tentang keadaan kalian, tapi
tolong kalian juga bisa ngerti aku.
Buat Tante Frida, aku cuma mau bilang,
“Tante, saat kita mencintai seseorang, kita bukan hanya mencintai
orang tersebut dengan keadaannya sekarang, saat kita ketemu. Tapi,
kita juga harus paham tentang masa lalunya, ngerti tentang
kondisi-kondisi yang mungkin nggak ngenakin dan yang pasti harus
bijaksana. Itu yang aku harap dari Tante untuk aku. Lalu, sampai
kapan Tante mau benci sama aku? Apa sih salah aku sama Tante? Kalau
Tante benci sama Mama, ya Mama aja! Aku memang bagian dari Mama, tapi
aku bukan Mama. Apa yang harus aku lakuin, biar Tante mau nerima aku
ya, sebagai orang yang nggak penting dalam hidup Tante juga gpp, atau
sebagai anak manusia yang mau curhat tentang dirinya. Kalau Tante
nggak bisa juga membuka hati Tante buat aku, gpp juga. Tapi, aku cuma
mau bilang bahwa aku nggak pernah tuh benci sama Tante, aku selalu
berusaha mengerti dan menghargai Tante sebagai isteri Ayah, meski aku
tau, aku pun bukan anak kandungnya. Tante kan punya anak juga, apa
Tante nggak bisa sedikit aja berempati dengan perasaanku, gimana
kalau 1 saat anak-anak Tante mengalami nasib seperti aku?”
Aku ngerti, mungkin apa yang aku mau
nggak mungkin dilakukan Tante Frida; tapi tolong, aku butuh waktu
bicara dengan Ayah. Bisa kan, kita menyingkirkan ego masing-masing
demi kebaikan orang lain?
Andai aku boleh milih, aku nggak mau
tuh milih dilahirkan di keluarga ini. Tapi sayangnya, Tuhan nggak
pernah tanya sama aku, “Lady, kamu mau dilahirkan di kleuarga
mana?”
Tapi, ini pelajaran berharga kok buat
aku, andai 1 saat nanti aku menikah; mudah-mudahan aku bisa menerima
segala keajaiban, segala kondisi dari suami aku; baik di masa aku
menjadi bagian dari hidupnya, masa lalu dan masa yang akan datang.
Ayah, aku mau bicara, sebentar saja …
Tante Frida, andai aku punya salah
maafin ya, beri aku kesempatan untuk bisa menyentuh hati Tante.
Armanda, aku baru sekali liat kamu
kemarin malam, “Kamu cantik, Dik!”